Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Vriyatna





 “Sesaat lagi bulan puasa. Hari bahagiamu.” Kata ibu. Senyum ibu menari-nari. Matanya berbinar-binar menatap Vriyatna.
            Vriyatna gundah. Senyumnya mengembang tapi bermakna hambar.
            “Kau akan menikah. Aku tak sabar menanti harinya, Vriyatna.” Kata ibu lagi.
            Vriyatna berlari kecil ke arah ibu. Dipeluknya ibu erat-erat.
            “Tahun ini berbeda, Bu.”
            “Iya, berbeda. Hadapilah dengan penuh kasih sayang. Aku tahu gundahmu. Tersenyumlah, Vriyatna. Kau akan dewasa”
            “Ibu...”
            “Vriyatna...” Ibu tersenyum kecil.
***
            Siapa yang tak mengenal Vriyatna? Kembang cantik yang mekarnya merah dengan dedaunan hijau di segala sisinya. Setiap aroma yang dihembuskannya menebar udara segar.
Orang-orang suka mendekati Vriyatna untuk menghirup aromanya. Sekedar menghirup aromanya saja. Untuk memetiknya? Tak seorangpun yang berani. Vriyatna terlalu indah di mata maupun di rasa.
            Vriyatna kembang yang mekar sepanjang masa. Bulan puasa adalah bulan favoritnya. Dalam penglihatan mata sayunya, orang-orang tampil mulia di bulan puasa. Khalayak bertindak seadanya, menentramkan hati Vriyatna.
            Vriyatna bukan penganut agama yang berasal dari timur-tengah. Dia orang biasa, dari agama berbeda, yang terlahir indah adanya. Satu-satunya alasan dia menyukai bulan puasa, karena keramahan yang diciptakannya, itu saja.
            “Orang-orang di bulan ini manis dan segar, Ibu. Seperti iklan sirup di televisi kita.”
            Begitu pengakuan Vriyatna kepada ibu. Selalu begitu, setiap tahunnya, setiap kali ditanya kenapa ia begitu bahagia menyambut bulan puasa.
            Pernah sekali Vriyatna menaruh hati pada seorang pria. Sontak kala itu hatinya berpesta. Si pria berbuat jenaka tanpa sengaja, Vriyatna jatuh cinta. Si pria tak pernah menyadarinya. Vriyatna selalu mengingatnya.
            Beberapa bulan kemudian, pria itu pindah rumah, ke pulau berbeda. Tak terdengar lagi kabarnya. Ia menjadi kenangan pengisi hati Vriyatna.
            Hari berlalu begitu saja. Sedih dan tawa berganti mengisi hati Vriyatna. Hanya ibu yang tahu isi hatinya. Itupun tak sepenuhnya.
            Vriyatna sering dikerumuni lelaki desa. Rumahnya ada di perbatasan desa dan kota. Vriyatna ramah terhadap mereka. Sesekali lelaki kota juga datang menggoda, Vriyatna tak begitu suka.
            “Mereka miskin perihal laku jenaka.” Kata Vriyatna, menjelaskan.
            Dalam kehalusan kulit pipinya timbul merah muda merona tiap kali ia tertawa. Tiap itu pula pria yang melihatnya berkali-kali jatuh cinta. “Oh Vriyatna, kau bidadari ya!” Bisik-bisik di hati para pria.
            Pernah sekali ketika berkaca, Vriyatna tanpa sadar berkata, “Aku alam. Aku bagian alam. Alam indah adanya. Aku indah adanya.”
Vriyatna memutar tubuhnya di hadapan cermin. Kembali ke posisi semula, Vriyatna berkata, “Aku secantik bulan puasa.”
            Bagi Vriyatna, bulan puasa lebih bernilai daripada bulan purnama.
***
            Pesta yang disebut-sebut akan dilaksanakan menjelang puasa tinggal sehari lagi. Pesta pernikahan yang digagas oleh seorang pemuda kota. Ia yang akan menikahi Vriyatna di pesta itu.
            “Akhirnya aku berhasil membelinya!” Seru sang pria, dalam sebuah pesta mabuk bersama temannya.
            Malam itu ia berpesta hingga gila. Pesta pelepasan lajang.
            “Sudah. Beberapa jam lagi ritual pesta dimulai. Beristirahatlah.” Ujar seorang sahabatnya.
            “Akh... Apa aku harus meninggalkan kalian?”
            “Istirahatlah.”
            Si pria pun pergi ke kamar dan tidur.
            Pesta dimulai. Gemerincing bibir berbunyi di mana-mana. Wacana menimpa wacana. Kesibukan terjadi seakan tak terarah. Namun, keriuhan punya satu tujuan, memadukan si pria kota dan Vriyatna dalam rona budaya.
            “Akhirnya resmi.” Bisik si pria kota dalam hatinya.
            Usaha si pria cukup keras. Mulai dari melobi tetangga Vriyatna, mencuri hati ayah Vriyatna, sampai memasang iklan ukuran besar di depan wajah ibu. Ibu jadi sulit melihat wajah si pria, yang bisa dilihat ibu hanya iklan.
            Vriyatna tak begitu suka. Tapi srategi kota begitu memaksa. Yang alamiah dipaksa pasrah. Vriyatna dipinangnya. Ayah Vriyatna dan ibu merasa sudah saatnya melepas peluk mereka atas Vriyatna.
            Berakhirlah pesta. Vriyatna dibawa pergi dari pelukan ibu dan ayahnya. Kini Vriyatna ditidurkan dan ditiduri di rumah si pria. Vriyatna digerayangi ala kota.
            Kulit-kulitnya dikelupas. Dilubangi, disedot minyak mentahnya.
            Pernah suatu ketika, pepohonan di kulitnya di bakar secara sengaja oleh si pria. Api menjalar. Vriyatna tertutup asap. Asap memadati kamarnya.
            Bahkan, asap itu menguap ke luar kamar, ke luar kota, memadati seisi kota. Menjadi kabut dimana-mana. Terdengar kabar, kabutnya menyebar sampai ke kota sebelah, sampai juga kabutnya ke negeri seberang. Presiden sampai turun tangan meminta maaf ke negeri seberang.
Di balik kabut yang menjadi-jadi, tak ada yang mengerti luka hati Vriyatna. Terlihat wajah Vriyatna selalu manis.
            Di suatu malam, kulit mulus Vriyatna diam-diam dibubuhi semen dan batu bata. “Tenang, sayang.” Kata si pria. “Aku rindu pria jenaka!” Tangis Vriyatna.
            Malam menelan tangis Vriyatna. Mekar memerah Vriyatna yang harusnya ada tertutup rapat di balik gedung-gedung kota.
            Bulan puasa telah tiba. Iklan sirup mulai menghias layar kaca. Semua orang mulai bertindak seadanya. Bulan yang setiap tahun dinanti-nantikan oleh Vriyatna.
            “Sudah tiba bulan puasa. Bulan bahagiamu.” Kata ibu menelepon Vriyatna.
            “Tahun ini berbeda, Bu.” Sahut Vriyatna via telepon. Suaranya terdengar lembut.
            Ibu senang, penuh harapan.
            Si pria kota santai memegangi telepon yang menempel di telinga Vriyatna, sementara tubuh Vriyatna terbujur kaku.
***
Medan, 2 Juli 2013


 (Andri E. Tarigan, dimuat di kumpulan cerpen "Kejutan Sebelum Ramadhan-Edisi Terbaik" nulisbuku.com, 2013)

Minyak Bersayap



“Pokoknya harga BBM harus murah!” “Pokoknya APBN untuk rakyat!”

Berbagai macam kepedulian terlontar. Didorong kepentingan. Aku asyik menonton saja. Kulihat di jalanan massa aksi sudah berserakan. Di kotaku sendiri, demonstran melakukan aksi penolakan di berbagai titik. Mereka betul-betul jengah dengan tingkah pemerintah yang ngotot menaikkan harga BBM. “Semua harga barang akan naik!” Protes mereka.

Aku sendiri saja. Tak berkawan. Tak mendukung, tak juga menolak.

Kunikmati seduhan mi instan yang disuguhkan di hadapanku. Aku makan mi di warung darurat pinggir jalan. Sekitar seratus meter dari titik demonstrasi. Aku merasa tertarik untuk mengamati aksi mereka. “Sebuah fenomena.” Benakku.

“Rusuh gak ini ya?” Kata bibi penjual mi.
 “Tergantung, Bi.”
“Tergantung apanya?”
“Tergantung emosi mereka lah, Bi. Biasanya kalau sudah seperti ini rusuh.”
“Dibayar gak mereka ini ya?”
“Kemungkinan besar tidak, Bi.”

Aku menjawab tidak. Karena, aku punya banyak teman yang juga aktivis mahasiswa. Terkadang aku ikut dalam aksi, atau ikut dalam sebatas diskusi.

Mereka tidak dibayar. Opini bahwa demonstrasi itu dibayar biasa terlontar dari mulut mereka yang tak pernah ikut demonstrasi. Dari mulut mereka yang tak berani turun ke jalan. Mereka yang mencari posisi nyaman. Menjilat dengan lidah seadanya.

Memang sih, ada-ada saja demo yang dibayar. Biasanya isu yang diangkat isu yang sempit. Seputar jatuh-menjatuhkan oknum.

Bagaimanapun juga, ada saja kebijakan pemerintah yang membuat rakyat marah. Kebijakan yang tak bisa ditolerir. Terlalu membodoh-bodohi.

Aku sendiri saja. Tak berkawan. Tak mendukung, tak juga menolak.

Aku menikmati pembodohan sebagai sebuah pemandangan. Sebagaimana aku menikmati mi instan yang kupesan. Dalam budaya menontonlah aku dibesarkan. Budaya tinggal konsumsi apa yang disajikan. Konsumerisme. Salah?
*** 

Demonstrasi semakin memanas. Massa aksi sudah dikelilingi oleh satuan-satuan pengawas. Mereka-mereka yang berseragam. Kepolisian.

Wajah-wajah demonstran memerah. Karena amarah, karena panas matahari, juga karena panasnya api. Ya, api. Tiga buah ban dibakar di tengah-tengah mereka. Lambang perlawanan.

Mi instanku sudah habis. Aku sekarang minum jus jeruk dingin. Dalam kesejukanku aku mengamati panasnya demonstrasi.

“Apa sebaiknya aku tutup saja, ya?” Kata si bibi.
“Bentar lagilah, Bi. Kita nikmati dulu pemandangan ini.” Kusampaikan kalimatku dengan nada sok kompak ala kota Medan.
“Nanti rusuh...”
“Kan nanti, rusuhnya, Bi.”

Si bibi duduk disampingku. Dia melipat-lipat kain lap tangan putih bermotif kotak-kotak biru, serapi mungkin.
“Bibi, cemana, dukung atau tolak kenaikan BBM ini?” kataku
“Ya kalau bisa janganlah naik. Susah nanti semuanya. Makin mahal. Ini aja belum naik dah mahal harga cabe. Gimana kalau nanti naik.”
“Jadi, ikut demo lah, Bi?”
“Ah, ngapain demo-demo.”

Si bibi berdiri dan meletakkan kain lap tangan ke meja yang seharusnya.
Aku tersenyum kecil.

Bagaimana mungkin pemerintah mengeluarkan kebijakan yang pro rakyat kalau rakyatnya tak menyampaikan apa yang dimauinya? Bagaimana mungkin politikus bersih di atas sana diterima pendapatnya bila rakyat yang di bawah tak teriak mendukungnya? Rakyat yang bisu adalah peluang bagi korupsi di atas sana.

Ingin aku menyampaikan hal ini ke si bibi. Tapi tak usahlah, si bibi hanya ingin hidup tentram. Berjualan sebaik-baiknya dan memberi makan serta menyekolahkan anak-anaknya. Aku membantunya dengan mengonsumsi jualannya.

“Bi, berapa semua?”
“Sebelas ribu.”

Sesederhana itu seharusnya.
**

Aku berjalan kaki, melewati para demonstran. Aku hendak pulang. Aku tahu demo itu penting, tapi aku belum berniat. Aku memilih tidak berkawan.

Kebetulan saja aku tinggal di lingkungan mahasiswa dan rakyat kecil. Seandainya, aku tinggal di apartemen sana, bergaul dengan para pengusaha. Apakah aku memusingkan naiknya BBM?

Bukannya semalam suntuk berdiskusi kerakyatan, aku akan dugem dengan perempuan-perempuan berpakaian seksi. Bukannya berbagi kasih, aku akan bertransaksi. Ini semua hanya masalah kultur, aku kira. Terlalu cepat mengklaim salah-benar. Makanya, aku memilih tak berkawan!

Aku menghambat angkutan kota dan menaikinya. Perlahan tapi pasti, titik demo itu kujauhi. “Angkot ini menggunakan BBM.” Pikirku.

Aku melihat sepeda motor buatan Jepang yang kencang menyalib. Sepeda motor itupun menggunakan BBM. Kulihat juga pembangunan real estate yang gencar di kota Medan. Mesin-mesin berat yang digunakan, semua pakai BBM.

Teknologi sejauh ini masih sangat bergantung pada minyak. Oleh karena itu, masalah BBM adalah masalah pelik. Tak sekedar masalah subsidi.

Pikiranku melayang ke pertambangan minyak bumi. Lubang-lubang yang dipaksa, bumi dibolongi demi memperoleh minyak dari bawah tanah. Yang membolongi masih orang asing. Orang dalam negeri bodoh dan korup. Namun ketika orang asing yang mengeruk, ya keuntungan jadi sama mereka.

Serba salah.

“Akh, macet terus!” Seru si sopir angkutan kota.
Mobilnya terhenti, di depan kami ternyata ada titik demo lagi. Lima ratus meter dari rumah kosku.
“Aku disini saja, bang.” Kukatakan pada si sopir. Kuberi tiga ribu rupiah.
Aku berjalan lagi, menyusuri para demonstran. Mereka memaki sambil marah sambil tertawa. Mereka tak takut bahaya jika bersama. Dalam hati, aku mengagumi mereka.

Lima ratus meter kulewati, aku sampai di rumah kos. Di dalam kamar, kunyalakan televisi, sidang paripurna DPR pusat tengah digelar.

Wajah-wajah transaksi bermunculan. Adu argumen dengan memanfaatkan kata ‘rakyat’ terjadi. Minyak bukan hanya masalah konsumsi rakyat kecil, tapi juga pembangunan dan bisnis. Terlihat mereka menggunakan kata ‘rakyat’ demi pembangunan dan bisnis tersebut.

Lusinan drum diletakkan tepat di tengah peserta sidang. Drum itu berwarna hitam, pekat. Tampak drum itu sangat berat. Ada tetesan-tetesan cairan hitam mengeras di sekitarnya. Aku sangat yakin itu drum minyak.
Di kedua sisinya, tampak para ekonom berdasi tengah mendesain sesuatu. Apa itu? Tiba-tiba televisi kabur.

“Argh, masalah antena.” Benakku geram.
Aku keluar dan memperbaiki antena yang posisinya sudah tidak pas, mungkin digoyang angin. Lalu aku kembali menonton.

Aku kini melihat jelas yang didesain para ekonom berdasi itu. Sepasang sayap putih untuk setiap drum hitam. Drum minyak hendak dibawa terbang.

Ada juga politisi yang mengikat bagian bawah drum dengan tali-tali tambang. Ujung tali tambang dibiarkan menjulur ke luar gedung.
Disana, para demonstran menyambut.
“Tarik.” Bisik si politisi.
 Demonstran menyambut tali itu dan beramai-ramai menariknya. Semua terpampang jelas di televisi.

“Perfect.” Kata seorang ekonom berdasi.
Mereka mundur meninggalkan desainnya. Dalam hitungan detik, sayap-sayap itu bergerak. Melambai lalu mengepak. Berberapa helai bulu terhempas.
“Perfect.” Kata ekonom berdasi itu lagi.
Kepakan sayap semakin kuat. Drum-drum itu mulai terbang.

“Talinya tertarik ke dalam, ayo tarik keluar!” Seru koordinator demonstrasi.
Massa buru-buru menarik. “Tarik! Tarik! Tarik!”Seru mereka keras beriringan.

“Lampunya! Lampunya!” Bisik seorang ekonom berdasi merangkap politisi kepada ajudannya.
Si ajudan menghidupkan lampu sorot yang juga didesain khusus. Cahaya BLSM memancar.

Drum terbang ke atas, sesuai desain sayap yang dirangkai. Demonstran yang tidak terima menarik drum tersebut agar kembali turun. Cahaya BLSM yang sengaja dipancarkan menyilaukan mata. Sudah dimana posisi drum?

Drum terbang ke atas, minyak bersayap itu menemui mereka yang tinggal di gedung-gedung tinggi. Minyak bersayap meninggalkan demonstran dan rakyat kecil, yang tinggal di rumah-rumah kumuh.

Semua terpampang jelas di televisi.

“Aku menonton saja?”  
***

(Andri E. Tarigan, harian Analisa, 26 Juni 2013)

Kartini di Tengah Mesin



Namaku Kartini. Pasti kau sering mendengar nama itu ketika masih SD. Yang terbayang di kepalamu, sosok ayu dengan sanggul di kepalanya, menggunakan kebaya berwarna cokelat muda dan sarung batik khas Jawa sebagai penutup kaki. Untuk ukuran anak SD, akan kau bayangkan anak sekolah dengan rambut yang dikuncir satu atau dua, ala gadis desa. Menggunakan rok merah yang panjangnya sampai setengah meter di bawah lutut. Ayu parasnya, santun pembicaraannya. Ketika berjalan, kepalanya lebih sering tunduk.

Aku tidak seperti itu. Aku sama sekali jauh dari citra Kartini yang sering didengung-dengungkan pada zaman SD atau zaman sesudahnya (Apakah sekolahmu setelah SD lumayan menghargai sejarah?). Aku tomboi. Aku suka berantem. Aku suka berbuat jahil kepada laki-laki, terutama laki-laki yang culun. Anak laki-laki SD yang tiba-tiba menangis ketika pantatnya kuremas adalah mainan favoritku. Mainan favorit kedua adalah anak laki-laki SD yang sering ingusan. Sering kubersihkan ingus dihidung mereka dengan menggosokkan tanah dan becek ke hidungnya. Lantas mukanya jadi hitam kena tanah. Itu lebih baik daripada muka bodoh ingusan yang dipampangkannya.

Namaku Kartini. Namaku tidak terinspirasi dari tokoh masa kolonial yang sering dipuja-puja pada Hari Perempuan itu. Namaku berasal dari judul sebuah majalah. Ibuku suka membaca majalah. Akibat begitu sukanya, dia sampai tidak mau dipanggil “ibu”, dia lebih senang dipanggil “mama”, “mami” atau kalau lidahku boleh lebih mentel lagi, “mom”. Pernah aku coba memanggilnya “mamak” ketika masih kelas 5 SD. Dia malah bilang, “Kartini, itu julukan untuk germo yang tinggal di gang sebelah. Jangan samakan mama dengan dia.”

Ibuku sangat suka membaca majalah. Setiap hari ada tiga majalah yang dibacanya. Itu dibacanya karena dia tidak punya pekerjaan lain di rumah selain menjaga aku dan membersihkan rumah. Untuk masalah kuliner, ibu lebih mempercayai cathering daripada tangannya sendiri.

Dari majalah itu ibu belajar banyak. Terutama tentang model tas dan baju yang akan menambah deret tagihan utangnya. Setiap ada model tas yang bagus, dia akan menelepon temannya, menanyakan apakah ada stock dengan model yang sama dengan yang terpampang di majalah A terbitan November hal. 34. Maka temannya akan menjawab, “Model sih ada, sist, tapi warna yang seperti itu gak ada. Yang brown mau?” Dan ibuku akan bilang, “Mmmmm, besok bawa barangnya ya, sist, tapi lihat dulu. Siapa tahu cocok.” Kalau cocok, dikredit. Hutang tambah. Karena kalau hutang tak tambah, untuk apa pula ayah bekerja?

Dengan tambahnya hutang dan berkembangnya model fashion di majalah, ayah jadi ada gunanya. Tak sia-sia dia bekerja berangkat jam 5 pagi dan pulang jam 7 malam. Ada kebutuhan material yang harus dipenuhinya.
Aku beranjak dewasa. Aku mulai menghadapi banyak pilihan. Pertama, aku mempertahankan ideologi masa kecilku, menjadi jahil sepanjang masa. Kedua, aku berhenti jahil dan berkembang menjadi perempuan ayu seperti Kartini yang lahir pada masa kolonial itu. Ketiga, aku mengikuti ibuku, memamah majalah dan mencari sumber daya material berupa laki-laki kantoran. Pilihan keempat, aku bekerja di kantoran dari pagi sampai malam lalu mencari suami yang suka baca majalah A dan mengkredit tas.

Namaku Kartini. Aku hidup dengan sangat bebas. Jadi aku tak punya alasan untuk menyangkut-pautkan hidupku dengan Kartini yang hidup di masa kolonial itu. Hidupku tak seterkungkung dia. Setidaknya itu yang kutahu. Sampai malam ini habis. Sampai pagi yang menyilaukan tiba dan aku berubah.
*** 

Habis gelap terbitlah terang. Habis malam terbitlah pagi. Aku terbangun di pagi yang penuh keingintahuan. Keingintahuan tentang mau jadi apa aku kedepan. Apa pilihan yang akan kujalani sepenuh hati.
Pagi yang terang, yang kudengar kebisingan. Mesin-mesin berbunyi kencang, berantuk-antuk, berputar, berproses, naik-turun pada poros, sesekali hawa panas dari minyak mesin menyembur. Aku melihat tubuhku begitu bulat. Keras. Kepalaku segi enam. Aku dinamai sekrup.

Aku bekerja dengan cara diam. Aku ada untuk menahan mesin-mesin itu agar tetap pada tempatnya. Tubuhku dipeluk oleh mereka. Banyak orang-orang seperti aku hidup di dalam rentetan mesin ini. Kami semua perempuan, jadi sekrup.

Kalau sekrup melonggar, pelukan mengendur, mesin bisa lari jalur, kerja tidak optimal. Kalau itu terjadi, kepalaku akan diputar dengan kunci no. 14, diperketat, dimasukkan lagi ke dalam peluk erat mesin-mesin. “Kamu diam disitu saja, ga usah protes. Ga usah keluar, nanti ada juga saatnya mesin-mesin dimatikan. Saat itu kamu bisa istirahat. Kamu kan tengah hidup diantara mesin-mesin, besi-besi pekerja keras, harusnya kamu senang.” Kata si teknisi.

Dunia mekanistik ini sungguh melelahkan. Kadang kala di tengah kebisingan dan cipratan minyak gemuk, aku jadi berpikir mesianistik. Hendaknya datanglah tiba-tiba pria ratu adil dengan baju punisher (ada gambar tengkorak putih di kaos hitamnya) mengeluarkanku dari kebisingan ini dan memporakporandakan mesin-mesin ini. Mesin-mesin yang gila, bisanya cuma membisingkan telinga.

Namun lambat laun lamunan mesianistikku itu buyar dengan adanya tetesan keringat, bahkan tetesan air mata, yang diteteskan mesin-mesin pekerja ke kepalaku. Pada tetesan air mata yang kesekian kalinya baru aku sadar. Aku dan mereka sama-sama tersiksa, sama-sama lelah. Kami hanya besi-besi yang bekerja sebatas mesin saja.

Kami bekerja untuk sistem mahabesar yang entah menguntungkan siapa. Tak jelas wajahnya, makhluk raksasa yang meminum sirup hasil kerja keras kami. Katanya, dia memiliki kami. “Yang memiliki aku hanyalah Tuhan.” Kataku dalam hati, menyangkal raksasa itu.

Ketika mesin diistirahatkan aku terpaksa pergi ke dunia ibuku, dunia baca majalah dan kredit barang mewah. Hanya disitu aku mendapat kesenangan, sekalipun bukan kesenangan yang kurindukan. Aku pergi ke dunia itu seperti Alice yang pergi ke Wonderland. Sebuah eskapisme. Pelarian. Sekalipun aku tidak sesenang Alice.
***

Namaku Kartini. Aku tersesat. Aku tidak tahu jalan untuk menemui Kartini yang lahir di masa kolonial itu. Aku ingin sekali menemuinya, sekedar bertanya apa itu kemanusiaan. Sebab yang kulihat saat ini adalah mesin-mesin kaku dan tas-tas kredit yang tak mampu memberi kesenangan yang kurindukan. Yang mana manusia? Aku pernah dengar tentang kemanusiaan waktu SD dulu.

“Kemanusiaan? Cuih...!” Kata kunci no.14. Kunci itu mengetuk keras kepalaku. Membunuh hasratku. ***

(Andri E. Tarigan, harian Analisa, 24 April 2013)

Kampung Darah

Suasana mistis menyelimuti kampung itu. Rumah-rumah penduduk memancarkan aura-aura kepedihan, kepedihan sebagai saksi hujan tangis di masa lalu. Cahaya bulan yang seharusnya menerangi terperangkap di balik bukit. Dingin malam seperti ingin bercerita tentang kisah yang sangat menentukan arah perjalananku di malam itu. Kisah itu memiliki arti tersendiri bagi diriku, ayahku, dan terutama bagi ibu Sutini.
"Mereka adalah setan!", kata ibu Sutini dengan raut wajah penuh dendam. Aku memandanginya dan bertingkah seakan-akan aku sedang mendalami perasaannya. Hanya satu dalam pikiranku: Aku tidak akan terpengaruh dengan kata-katanya dan aku akan mencapai tujuan awalku datang ke kampung ini.
"Aku tahu kesedihan ibu. Tapi, apa harus begini? Apa ibu harus tenggelam dalam kesedihan ibu?"
"Aku sudah tidak punya jalan lain. Tak ada lagi yang kumiliki yang bisa memberi kebahagiaan bagiku. Dendam adalah bahagiaku. Aku harus menyatu dengan dendam ini, aku harus terbakar olehnya sehingga aku bisa berjuang. Aku harus melawan!"
Mata ibu Sutini memerah. Kedua bola mata itu seperti ingin mengeluarkan tetesan air mata, tapi air matanya memang sudah habis, sudah terlalu sering dia menangis dan terhibur oleh tangis-tangisnya sendiri. Ibu Sutini seperti mayat hidup, seperti tak ada lagi cinta yang bisa dipancarkannya.
Dan tak hanya ibu Sutini, hampir seluruh penduduk asli kampung itu bertindak seperti mayat hidup. Sungguh layak orang kota menyebut kampung itu kampung darah, sebab setiap sorot mata di kampung itu bagaikan guratan luka yang siap menyemburkan darah.
"Bu, tujuanku datang ke sini bukan hanya untuk memandangi suasana yang ada. Aku ingin merangkul ibu dan semua penduduk kampung. Aku ingin menawarkan cinta kasih yang bisa merubah kehidupan kampung sini. Aku ingin semua hidup damai tanpa dendam," kataku.
Telepon genggamku berbunyi. Aku mengalihkan sejenak perhatianku dari ibu Sutini. Melalui pesan singkat, ayah menyatakan padaku bahwa dia sudah berada di luar gubuk, dia akan tetap di luar dan menguping pembicaraan kami.
"Apa? Kau ingin memberi damai tanpa dendam? Kau sedang bermimpi anak muda. Kau tidak mengerti arti damai bagiku. Kau juga tidak tahu arti dendam bagiku. Aku telah kehilangan segalanya. Sampai lewat mati pun aku akan tetap dendam dengan pengusaha keparat itu."
Aku mencoba untuk tenang dan memasang mimik wajah yang antusias ke arah ibu Sutini. Aku menghembuskan nafas seakan-akan aku sangat memahami penderitaan ibu Sutini. Kuteguk teh hangat yang telah disediakan ibu Sutini dihadapanku untuk mencairkan suasana. Aku berusaha sekeras mungkin agar dia tidak mencurigai maksud kedatanganku.
"Kamu tahu apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu? Itu adalah hari kiamat. Hari kematian bagi seluruh penduduk kampung ini. Pengusaha keparat itu datang dengan para preman yang penuh dengan taring-taring dosa. Di sana, di atas bukit itu, mereka membantai berpuluh penduduk desa ini. Binatang-binatang itu datang, merebut tanah kami dan memotong para penduduk kampung ini, sampai semuanya berdarah. Bukit itu merupakan tempat jatuhnya hujan darah itu. Mereka kehilangan nyawanya untuk merebut tanah mereka sendiri. Jeritan-jeritan dari kejadian itu masih terus mengiris hatiku sampai saat ini. Masih pantaskah aku berdamai atas semua ini? Jika kutemukan lagi pengusaha keparat itu, akan kutikamkan pisau ini ke perutnya."
Ibu Sutini memegang erat pisau belati yang memang selalu dibawanya. Ekspresi yang ditunjukkannya membuatku sedikit merinding. Aku sudah tahu sebelumnya bahwa bukit di selatan kampung itu merupakan tempat pembantaian dua puluh tahun yang lalu. Sebelumnya aku merasa hal itu sebagai hal yang biasa. Aku dididik dengan paham-paham yang rasional dan tindakan pembantaian oleh para pengusaha sewaktu menginginkan lahan baru merupakan hal yang pantas bagiku. Tapi kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku mulai merasakan suasana mistis yang ada menggerayangi isi otakku. Aku kehilangan konsentrasi.
"Suamiku memang bebal, dia memimpin penduduk untuk bangkit melawan dan berjuang ke bukit tanpa peduli ancaman dari pengusaha itu. Seperti kesetanan, dia mengangkat belatinya, belati ini, untuk menahan laju para pendatang itu. Dia mengangkat belatinya hingga akhirnya dia ditusuk oleh salah seorang preman dengan belatinya sendiri. Parahnya, kau tahu anak muda, pengusaha itu datang dan meludahi mayat suamiku. Dia menendang kepala mayat suamiku dengan tawa yang menggelegar. Apakah pantas jika aku tak mendendam dengan binatang itu?"
Aku terdiam. Kalimat demi kalimat tentang masa lalu yang berdarah itu membuatku gelisah. Banyak tanya yang lahir di otakku selama mendengarkan kata-kata ibu Sutini. Mengapa suaminya mau berkorban habis-habisan? Mengapa ada yang tega merusak ketentraman kampung itu? Setiap tanya yang timbul semakin meruntuhkan alam sadarku. Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari arah pintu masuk.
"Sepertinya kau sudah bicara berlebihan pelacur tua!" "Ah... kau, berani kau datang kesini. Persetan kau!"
Ibu Sutini dengan sigap mencoba menusukkan belatinya ke perut seorang pria tua yang masuk tiba-tiba ke dalam gubuk. Pria tua itu adalah ayahku. Dialah pengusaha yang dimaksud oleh ibu Sutini. Aku sendiri adalah orang yang ditugaskannya untuk menghasut ibu Sutini demi menuntaskan ambisinya yang tertunda akibat kerusuhan dua puluh tahun yang lalu.
Kedatangan ayah membuatku terkejut. Kisah-kisah pembantaian meracuni pikiranku, pandanganku gelap. Bau darah tercium dari segala arah. Aku seperti memasuki alam di luar dunia nyata.
Untuk pertama kalinya aku merasa dalam pengayoman. Suasana di sekitarku membuatku merasa nyaman. Aku merasakan kepuasan yang sesungguhnya sebagai seorang manusia. Pada saat mataku mulai terbuka, aku melihat ibu Sutini. Tangan kanannya memegang lubang tusukan yang menganga di perut ayahku. Tangan kirinya memegang tanganku. Tanganku yang berlumur darah dan menggenggam erat sebuah belati.***

(Andri E. Tarigan, harian Analisa,  1 juni 2011)


4 Langkah Audit Perusahaan

Keuangan perusahaan tercatat dalam pembukuan akuntansi. Data yang tertera pada buku akuntansi perlu diuji secara berkala, untuk mencegah tim...