Pemerintah kota mencetuskan agenda
penggusuran para pedagang buku bekas, yang berlokasi di Titi Gantung.
Sebuah kebijakan yang sulit ditolerir kalau memang beranjak dari tujuan
memajukan masyarakat kota Medan. Logikanya jelas, pemindahan pasar buku
dari tempat yang strategis (seperti Titi Gantung) sama artinya dengan
menambah hambatan akses masyarakat memperoleh pengetahuan.
Tradisi intelektual
akan memudar di masyarakat, ketika kesan menghargai pengetahuan tidak
ditunjukkan oleh penguasa. Jika ada pasar buku bekas di pusat kota, maka
itu sejatinya adalah sebuah prestasi, kenapa pula harus digusur?
Sejenak memandang ke Eropa, tempat dimana bisnis beranak-pinak
sedemikian pesat, namun masyarakatnya ternyata tak begitu terjebak dalam
lautan ekonomisme. Dibalik sikap kapitalistiknya, masyarakat Eropa
masih sangat menghargai tradisi intelektual.
Ketika akhir pekan, tak jarang mereka menghabiskan waktu di taman kota
sambil membaca buku. Atau mungkin berkunjung ke museum. Museum di
kawasan Eropa merupakan tempat yang ramai, menarik, dan membanggakan.
Sebab, buku atau museum, atau apapun yang merupakan pembudayaan tradisi
intelektual, memberikan efek rekreatif bagi siapapun yang ingin maju.
Kaum Eropa sudah lama menyadari hal tersebut. Dalam sejarah peradaban,
Eropa pernah mengalami masa Renaisans dan juga Aufklarung, masa dimana
masyarakat Eropa secara revolusioner di segala bidang, mengukuhkan
tradisi intelektual (yang terlebih dahulu digagasi Yunani kuno dan
Romawi kuno).
Bangunan dan literatur dari masa lampau tersebut, dipelihara dan
dibiarkan megah di tengah kota besar di Eropa hingga saat ini.
Tempat-tempat tersebut ramai dikunjungi, bernilai wisata. Dan yang
terpenting, sembari memberi rekreasi, tempat-tempat tersebut membentuk
kesadaran masyarakat.
Rekreasi dan kesadaran, itu yang diperoleh dari pengetahuan, dan buku
adalah sumber pengetahuan paling konkret. Untuk wilayah Medan, pedagang
buku bekas Titi Gantung turut memfasilitasi itu. Jadilah, masyarakat
Medan bisa mendapat buku dengan harga murah sehingga tradisi intelektual
bisa dipelihara. Pemerintah perlu mempertimbangkan ini.
Tata Kota
Kita sudah merasa cukup miris, ketika pemerintah kota Medan mengizinkan
penghancuran beberapa sisa bangunan bersejarah di seputaran Kesawan dan
lapangan Benteng, yang digantikan dengan berbagai bangunan bisnis. Nilai
bersama direduksi menjadi nilai pribadi, suatu kemunduran.
Jika pusat kota terus dibangun dengan cara seperti ini, maka masyarakat
kota hanya akan bisa berekreasi melalui prilaku konsumtif. Masyarakat
yang candu dan gila belanja di mall/plaza tanpa memikirkan fungsi, hanya
demi gengsi. Kesadaran akan melemah, dan pola sosial terombang-ambing
oleh tren bisnis. Kantong dikuras. Dampak langsungnya tentu saja
kesejahteraan jadi sulit dicapai. Karakter masyarakat yang dibentuk
kurang baik.
Jika kerangka yang kita impikan adalah kerangka kemajuan, maka tata kota
Medan adalah salah satu unsur penting yang harus dimajukan. Bagaimana
agar kota tampil indah sekaligus turut membentuk karakter masyarakat
yang ideal.
Tak ada salahnya meniru pembangunan kota ala Eropa. Toh, kota Medan pada
dasarnya dibangun dengan konsep Eropa. Yaitu dengan mengedepankan
rekreasi intelektual di pusat kotanya.
Bangunan bersejarah yang sudah ada, dipelihara. Kebersihan dijaga,
perdagangan buku dikembangkan. Kalaupun ada bisnis yang hendak
dikembangkan, bisa berupa bisnis kafe pinggir jalan, dimana masyarakat
bisa duduk bermanja sambil membaca buku atau memandang bangunan kuno.
Lapangan merdeka, pasar buku bekas Titi Gantung, dan beberapa sisa
bangunan bersejarah di Kesawan, atau bahkan bangunan baru dengan
arsitektur kuno seperti hotel Grand Aston, bisa dijadikan dasar
penataan. Bila perlu ditambah lagi pasar buku. Hanya dibutuhkan
keseriusan pemerintah, untuk mau menata kota Medan dengan mengutamakan
ketersediaan rekreasi intelektual. Bagaimana masyarakat bisa
bersenang-senang bukan dengan perilaku konsumtif, melainkan dengan
mendidik diri.
Ketika intelektualitas diutamakan dan pengembangannya terfokus di pusat
kota, masyarakat akan terangsang untuk mengembangkan nilai-nilai diri.
Bisa jadi, komunitas pengembangan kebudayaan lokal akan menjamur,
sehingga identitas humaniora masyarakat Medan terselamatkan. Produk
budaya berkembang, menambah nilai wisata.
Terkhusus untuk pedagang Titi Gantung, penulis berpendapat bahwa lokasi
pasar buku bekas tersebut sudah sangat tepat. Jangan lagi dipindahkan,
bahkan bila perlu difasilitasi. Mengingat yang mereka jual adalah buku
murah, sehingga sangat membantu masyarakat (terutama masyarakat ekonomi
menengah ke bawah). Lagipula, di pasar bekas tersebutlah bisa didapatkan
buku-buku penting yang mungkin tidak lagi populer. Pasar buku modern
tidak menyediakan yang seperti itu, hanya menyediakan yang populer saja.
Secara umum, masyarakat Medan butuh rekreasi intelektual, guna mendidik
diri sekaligus bersenang-senang dengan cara yang tepat. Secara khusus,
masyarakat Medan butuh keberadaan strategis pasar buku bekas seperti
Titi Gantung.***
(Andri E. Tarigan, Harian Analisa, 27 September 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mari berdiskusi!