Hai, selamat datang di blog pribadiku. Blog ini berisi portofolio tulisanku sebagai freelance writer. Selamat membaca. :)
Kartini di Tengah Mesin
Namaku Kartini. Pasti kau sering mendengar nama itu ketika masih SD. Yang terbayang di kepalamu, sosok ayu dengan sanggul di kepalanya, menggunakan kebaya berwarna cokelat muda dan sarung batik khas Jawa sebagai penutup kaki. Untuk ukuran anak SD, akan kau bayangkan anak sekolah dengan rambut yang dikuncir satu atau dua, ala gadis desa. Menggunakan rok merah yang panjangnya sampai setengah meter di bawah lutut. Ayu parasnya, santun pembicaraannya. Ketika berjalan, kepalanya lebih sering tunduk.
Aku tidak seperti itu. Aku sama sekali jauh dari citra Kartini yang sering didengung-dengungkan pada zaman SD atau zaman sesudahnya (Apakah sekolahmu setelah SD lumayan menghargai sejarah?). Aku tomboi. Aku suka berantem. Aku suka berbuat jahil kepada laki-laki, terutama laki-laki yang culun. Anak laki-laki SD yang tiba-tiba menangis ketika pantatnya kuremas adalah mainan favoritku. Mainan favorit kedua adalah anak laki-laki SD yang sering ingusan. Sering kubersihkan ingus dihidung mereka dengan menggosokkan tanah dan becek ke hidungnya. Lantas mukanya jadi hitam kena tanah. Itu lebih baik daripada muka bodoh ingusan yang dipampangkannya.
Namaku Kartini. Namaku tidak terinspirasi dari tokoh masa kolonial yang sering dipuja-puja pada Hari Perempuan itu. Namaku berasal dari judul sebuah majalah. Ibuku suka membaca majalah. Akibat begitu sukanya, dia sampai tidak mau dipanggil “ibu”, dia lebih senang dipanggil “mama”, “mami” atau kalau lidahku boleh lebih mentel lagi, “mom”. Pernah aku coba memanggilnya “mamak” ketika masih kelas 5 SD. Dia malah bilang, “Kartini, itu julukan untuk germo yang tinggal di gang sebelah. Jangan samakan mama dengan dia.”
Ibuku sangat suka membaca majalah. Setiap hari ada tiga majalah yang dibacanya. Itu dibacanya karena dia tidak punya pekerjaan lain di rumah selain menjaga aku dan membersihkan rumah. Untuk masalah kuliner, ibu lebih mempercayai cathering daripada tangannya sendiri.
Dari majalah itu ibu belajar banyak. Terutama tentang model tas dan baju yang akan menambah deret tagihan utangnya. Setiap ada model tas yang bagus, dia akan menelepon temannya, menanyakan apakah ada stock dengan model yang sama dengan yang terpampang di majalah A terbitan November hal. 34. Maka temannya akan menjawab, “Model sih ada, sist, tapi warna yang seperti itu gak ada. Yang brown mau?” Dan ibuku akan bilang, “Mmmmm, besok bawa barangnya ya, sist, tapi lihat dulu. Siapa tahu cocok.” Kalau cocok, dikredit. Hutang tambah. Karena kalau hutang tak tambah, untuk apa pula ayah bekerja?
Dengan tambahnya hutang dan berkembangnya model fashion di majalah, ayah jadi ada gunanya. Tak sia-sia dia bekerja berangkat jam 5 pagi dan pulang jam 7 malam. Ada kebutuhan material yang harus dipenuhinya.
Aku beranjak dewasa. Aku mulai menghadapi banyak pilihan. Pertama, aku mempertahankan ideologi masa kecilku, menjadi jahil sepanjang masa. Kedua, aku berhenti jahil dan berkembang menjadi perempuan ayu seperti Kartini yang lahir pada masa kolonial itu. Ketiga, aku mengikuti ibuku, memamah majalah dan mencari sumber daya material berupa laki-laki kantoran. Pilihan keempat, aku bekerja di kantoran dari pagi sampai malam lalu mencari suami yang suka baca majalah A dan mengkredit tas.
Namaku Kartini. Aku hidup dengan sangat bebas. Jadi aku tak punya alasan untuk menyangkut-pautkan hidupku dengan Kartini yang hidup di masa kolonial itu. Hidupku tak seterkungkung dia. Setidaknya itu yang kutahu. Sampai malam ini habis. Sampai pagi yang menyilaukan tiba dan aku berubah.
***
Habis gelap terbitlah terang. Habis malam terbitlah pagi. Aku terbangun di pagi yang penuh keingintahuan. Keingintahuan tentang mau jadi apa aku kedepan. Apa pilihan yang akan kujalani sepenuh hati.
Pagi yang terang, yang kudengar kebisingan. Mesin-mesin berbunyi kencang, berantuk-antuk, berputar, berproses, naik-turun pada poros, sesekali hawa panas dari minyak mesin menyembur. Aku melihat tubuhku begitu bulat. Keras. Kepalaku segi enam. Aku dinamai sekrup.
Aku bekerja dengan cara diam. Aku ada untuk menahan mesin-mesin itu agar tetap pada tempatnya. Tubuhku dipeluk oleh mereka. Banyak orang-orang seperti aku hidup di dalam rentetan mesin ini. Kami semua perempuan, jadi sekrup.
Kalau sekrup melonggar, pelukan mengendur, mesin bisa lari jalur, kerja tidak optimal. Kalau itu terjadi, kepalaku akan diputar dengan kunci no. 14, diperketat, dimasukkan lagi ke dalam peluk erat mesin-mesin. “Kamu diam disitu saja, ga usah protes. Ga usah keluar, nanti ada juga saatnya mesin-mesin dimatikan. Saat itu kamu bisa istirahat. Kamu kan tengah hidup diantara mesin-mesin, besi-besi pekerja keras, harusnya kamu senang.” Kata si teknisi.
Dunia mekanistik ini sungguh melelahkan. Kadang kala di tengah kebisingan dan cipratan minyak gemuk, aku jadi berpikir mesianistik. Hendaknya datanglah tiba-tiba pria ratu adil dengan baju punisher (ada gambar tengkorak putih di kaos hitamnya) mengeluarkanku dari kebisingan ini dan memporakporandakan mesin-mesin ini. Mesin-mesin yang gila, bisanya cuma membisingkan telinga.
Namun lambat laun lamunan mesianistikku itu buyar dengan adanya tetesan keringat, bahkan tetesan air mata, yang diteteskan mesin-mesin pekerja ke kepalaku. Pada tetesan air mata yang kesekian kalinya baru aku sadar. Aku dan mereka sama-sama tersiksa, sama-sama lelah. Kami hanya besi-besi yang bekerja sebatas mesin saja.
Kami bekerja untuk sistem mahabesar yang entah menguntungkan siapa. Tak jelas wajahnya, makhluk raksasa yang meminum sirup hasil kerja keras kami. Katanya, dia memiliki kami. “Yang memiliki aku hanyalah Tuhan.” Kataku dalam hati, menyangkal raksasa itu.
Ketika mesin diistirahatkan aku terpaksa pergi ke dunia ibuku, dunia baca majalah dan kredit barang mewah. Hanya disitu aku mendapat kesenangan, sekalipun bukan kesenangan yang kurindukan. Aku pergi ke dunia itu seperti Alice yang pergi ke Wonderland. Sebuah eskapisme. Pelarian. Sekalipun aku tidak sesenang Alice.
***
Namaku Kartini. Aku tersesat. Aku tidak tahu jalan untuk menemui Kartini yang lahir di masa kolonial itu. Aku ingin sekali menemuinya, sekedar bertanya apa itu kemanusiaan. Sebab yang kulihat saat ini adalah mesin-mesin kaku dan tas-tas kredit yang tak mampu memberi kesenangan yang kurindukan. Yang mana manusia? Aku pernah dengar tentang kemanusiaan waktu SD dulu.
“Kemanusiaan? Cuih...!” Kata kunci no.14. Kunci itu mengetuk keras kepalaku. Membunuh hasratku. ***
(Andri E. Tarigan, harian Analisa, 24 April 2013)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
4 Langkah Audit Perusahaan
Keuangan perusahaan tercatat dalam pembukuan akuntansi. Data yang tertera pada buku akuntansi perlu diuji secara berkala, untuk mencegah tim...
-
Beberapa tahun terakhir, Indonesia mendapat nama yang harum di mata dunia dengan tampilnya putra-putri bangsa sebagai pemenang di berbagai ...
-
Musim pilkada sudah menyambangi Indonesia. Para politisi lokal mulai beradu taji, siapa yang paling layak menjadi orang nomor satu di ...
-
Berita pedih dari dunia TKI kembali mencuat. Darsem, TKI yang mencoba membela dirinya dari siksaan majikannya, kini harus berjuang melewati...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mari berdiskusi!