Keuangan perusahaan tercatat dalam pembukuan akuntansi. Data yang tertera pada buku akuntansi perlu diuji secara berkala, untuk mencegah timbulnya fraud (kecurangan) dalam penyusunannya. Audit perusahaan diperlukan. Audit juga berfungsi sebagai alat untuk mengoreksi apabila ada kesalahan perhitungan keuangan perusahaan yang tidak disengaja.
Audit perusahaan bertujuan mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan. Ada empat langkah sederhana yang umum dilakukan auditor dalam mengaudit perusahaan.
Berikut langkah-langkahnya:
1. Perencanaan
Sebelum audit lapangan dilakukan, mesti ada perencanaan terlebih dahulu. Di langkah pertama ini, auditor perlu mempertimbangkan beberapa hal, yang penting bagi perencanaan audit. Pertimbangan didasarkan pada kondisi perusahaan yang akan diaudit.
Kondisi itu berupa resiko bawaan (inherent risk) yang mungkin terjadi, SDM yang dimiliki perusahaan, sistem legal perusahaan, bidang usaha perusahaan dan elemen-elemen terkait lainnya, yang bisa menjadi referensi auditor untuk memastikan proses audit berjalan dengan benar dan efektif.
Setelah informasi dan referensi itu dikumpulkan, auditor menentukan jenis audit mana yang cocok untuk perusahaan yang akan diaudit. Dalam menentukan jenis audit, auditor harus mempertimbangkan besar-kecilnya resiko dari jenis yang dipilih.
Setelah menentukan jenis audit yang cocok, auditor menyusun perencanaannya. Rencana audit disampaikan pada perusahaan. Auditor kemudian meminta izin perusahaan untuk memulai proses selanjutnya. Saat meminta izin, auditor sebaiknya menjelaskan masalah resiko yang mungkin muncul dalam proses audit nantinya.
Auditor kemudian memastikan jadwal pemeriksaan informasi ke lapangan, wilayah-wilayah mana yang akan menjadi sasaran audit. Perwakilan pihak perusahaan akan ditugaskan untuk membantu atau sekedar memastikan kinerja auditor berjalan sesuai rencana di lapangan. Tahap perencanaan ini ditutup dengan persetujuan antara kedua belah pihak, auditor dan perusahaan, tentang skema perencanaan audit yang telah disusun.
2. Pengujian Informasi
Setelah langkah perencanaan, auditor melakukan langkah berikutnya yaitu pengujian informasi. Auditor dan perwakilan perusahaan turun ke lapangan dan mengumpulkan semua data yang dibutuhkan dalam proses auditing. Tahap ini biasanya memakan waktu yang tidak sedikit karena terdapat banyak wilayah keuangan yang harus dicermati kondisinya secara detail.
Auditor harus menyusun data yang dikumpulkannya dengan jujur dan terorganisir. Ini akan mempermudah auditor menguji data-data itu dan mempermudah pihak perusahaan membaca hasil audit nantinya. Data yang terkumpul kemudian diuji dengan metode yang telah ditentukan saat perencanaan. Auditor memastikan data yang terkumpul objektif dan tepat sasaran. Ketika auditor menemukan kejanggalan, maka kejanggalan itu dicatat dan nantinya masuk ke dalam laporan hasil audit.
Data yang telah terkumpul dan selesai diuji, kemudian dianalisis. Lewat proses analisis ini, auditor menuntaskan observasinya. Auditor kemudian memperoleh gambaran yang lengkap dan jelas tentang kondisi keuangan perusahaan di lapangan. Auditor juga turut melakukan pemetaan terkait masalah-masalah apa yang mungkin timbul dalam proses observasi.
Auditor mesti jujur mengungkapkan temuannya jika ada keraguan pada hasil observasi. Auditor mesti tahu faktor-faktor apa saja yang berpotensi membuat observasinya tak berjalan dengan baik dan benar. Auditor bisa melihatnya dari temuan di lapangan, yang dikaitkan dengan informasi-informasi yang sebelumnya telah dikumpulkan tentang kondisi perusahaan. Auditor juga mempertimbangkan faktor lainnya yang mempengaruhi arus keuangan perusahaan.
Selama pengujian informasi, auditor melakukan cek dan ricek terhadap data yang dikumpulkan untuk mengantisipasi resiko kesalahan. Resiko sebisa mungkin ditiadakan. Keberhasilan menangani resiko dalam proses ini, akan sangat membantu auditor untuk mendapatkan hasil audit yang memuaskan.
3. Mendapatkan Hasil
Setelah pengujian informasi rampung, langkah selanjutnya adalah mendapatkan hasil. Auditor mulai menganalisis kumpulan data hasil observasinya. Auditor memeriksa resiko material yang dialami oleh perusahaan. Lewat analisis ini, auditor mendaftar kesalahan-kesalahan laporan keuangan dan kerugian yang dialami perusahaan.
Daftar itu kemudian diklarifikasi ulang. Benarkah kesalahan dan kerugian perusahaan itu terjadi? Hasil klarifikasi masuk ke dalam hasil audit. Temuan kesalahan diikuti dengan pemeriksaan lanjutan yang lebih mendalam.
Untuk perusahaan besar, tingkat kesalahan yang ditemukan biasanya lebih banyak dari perusahaan kecil. Perusahaan besar umumnya diaudit oleh tim khusus auditor, bukan satu orang auditor saja. Untuk auditor yang bekerja dalam tim, sebaiknya berkomunikasi satu sama lain untuk saling mengklarifikasi hasil analisis, berdasarkan hasil observasi masing-masing.
4. Evaluasi
Setelah melewati langkah perencanaan, pengujian informasi dan mendapatkan hasil, maka auditor harus melakukan langkah terakhir yaitu menyusun hasil evaluasi. Hasil evaluasi berbentuk laporan. Laporan diserahkan oleh auditor kepada perusahaan, sebagai hasil final dari proses auditing.
Dalam laporan ini, auditor merilis hasil temuan dan analisisnya terkait kerugian dan kesalahan laporan keuangan perusahaan. Auditor juga memberi rekomendasi-rekomendasi, perkembangan terbaik apa yang mungkin dicapai oleh perusahaan. Setiap informasi yang tertera dalam laporan harus merupakan hasil observasi, dan berguna bagi perusahaan untuk menyehatkan kondisi keuangannya.
Laporan evaluasi audit yang baik, memuat informasi-informasi faktual berguna yang disusun dengan rapi sehingga memudahkan pembacanya. Laporan ini menyajikan gambaran masalah perusahaan. Keberhasilan seorang auditor ditentukan di sini, bagaimana laporannya mampu memuat gambaran masalah perusahaan secara jelas dan tidak manipulatif.
***
Andri Ersada, Freelance Writer
Hai, selamat datang di blog pribadiku. Blog ini berisi portofolio tulisanku sebagai freelance writer. Selamat membaca. :)
The Polyphonic Spree: Evolusi Grunge Menuju Orkestra
Tulisan ini terbit di apaya.co
Saat krisis grunge mendera Bumi di penghujung 1990-an, kelompok orkestra super-orgasme pop rock The Polyphonic Spree lahir.
Grunge identik dengan kord aneh (kombinasi kord punk yang diselewengkan) serta bayangan Nirvana. Sekalipun banyak band yang mengusung aliran grunge, dengan corak risinil, tetap saja penghuni Bumi tidak bisa melepaskan image kental Nirvana. Tentu berbahaya bagi popularitas grunge itu sendiri. Sejak kematian Kurt Cobain, popularitas grunge meredup dan perlahan bergeser dari setiap mata penghuni Bumi. Contohnya, dari layar MTV.
Sekalipun singkat, riwayat grunge tidak bisa disepelekan. Grunge membentuk identitas unik dari musik rock pada dekade 1990-an. Hampir semua band yang berjuang untuk ketenaran, terkena pengaruhnya. Di Amerika Serikat, ada satu band bernama Tripping Daisy, yang mengusung psych-rock, namun tidak adem-adem psikedelik juga layaknya Pink Floyd. Tebak sendiri musiknya terdengar seperti apa? Grunge.
Tripping Daisy dipimpin oleh vokalis berambut ikal bernama Tim De Laughter. Dalam lagunya, terdapat kombinasi kord aneh ala grunge. Mereka cukup digemari di Amerika Serikat karena keisengan yang muncul dalam lirik-lirik lagunya dan raut wajah sang vokalis.
Tripping Daisy berjaya di tiga albumnya, ‘Bill’ (1992), ‘I Am an Elastic Firecracker’ (1995), dan ‘Jesus Hits Like the Atom Bomb’ (1998). Album pertama membuat Tripping Daisy menjadi bintang di tempat kelahirannya, Dallas. Album kedua membuat mereka melejit menjadi bintang nasional Amerika Serikat. Penjualan album mereka mendapat skor emas di negeri sendiri dan platinum di Kanada. Setahun setelah album ketiga, duka menimpa Tripping Daisy dan menghambat langkah mereka. Gitaris band, Wes Berggren meninggal pada tahun 1999.
Evolusi dari Zaman Grunge
Krisis grunge mendera. Banyak musisi grunge yang mencoba mempertahankan diri, namun hanya bertaji di kancah lokal. Banyak juga yang beralih aliran. Hanya band besar seperti Pearl Jam yang mampu bertahan.
Frontman Tripping Daisy, Tim De Laughter, masih terjebak dalam melankolia karena sang gitaris meninggal overdosis. Satu album lagi bercorak grunge ditelurkan berjudul ‘Tripping Daisy’ (2000), namun euforia yang mengikuti tidak lagi sama.
Tim De Laughter dan sisa personel Tripping Daisy lainnya, tetap berkarya. Mereka melepas corak grunge tetapi bertahan dengan sentuhan psikedelik. Sembari tenggelam dalam melankolia ditinggal sang gitaris, De Laughter melakukan eksperimen yang cukup berbahaya. Dia mengganti unsur grunge dari musiknya, menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda dan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah musik planet Bumi. Corak grunge itu berevolusi menjadi orkestra.
Eksperimental De Laughter tersebut bernama The Polyphonic Spree, dan dibentuk secara kolektif. Musisi dari bermacam band dicaplok untuk bergabung. Personel The Polyphonic Spree berjumlah belasan orang. Album pertama The Polyphonic Spree direkam di studio yang sudah dikontrak sebelumnya atas nama Tripping Daisy.
Musik eksperimental yang diusung oleh The Polyphonic Spree sulit dibahasakan. Coba dengar saja bagaimana mereka meracik ‘Lithium’, salah satu track populer dari Nirvana, dengan orkestrasi psikedelik.
Orkestrasi Penuh Aksi
Siapa sangka, era pasca-grunge justru menjemput hawa gemilang untuk Tim De Laughter dan kawan-kawan. Setelah tampil pertama kali sebagai band pembuka, untuk band indie Grandaddy di Dallas pada pertengahan 2000, tawaran manggung dari berbagai daerah menghampiri mereka. Personel dengan angka berjibun membuat The Polyphonic Spree harus pergi konser dengan bus sekolah.
Jumlah personel pun lantas berkembang, yang semula berjumlah 13 lantas bertambah menjadi 25 orang. Mereka pun memulai ekspansi ke luar Amerika Serikat. Jepang, menjadi salah satu tujuannya.
The Polyphonic Spree tampil seperti sebuah sekte. Mereka secara kompak memakai daster kaum hippies dan menyuarakan kebahagiaan duniawi secara keroyokan. Berbagai macam alat musik dimainkan di atas panggung, mulai dari alat musik zaman post-modern, synthesizer, sampai alat musik dari zaman dewa-dewi Yunani kuno ribuan tahun lalu, harpa.
Dasar dari sebuah band rock pun tetap ikut serta–drum, gitar listrik, dan bass elektrik. Lagu-lagu The Polyphonic Spree menggunakan kord yang umum, ala pop rock. Namun dilapisi dengan melodi belasan alat musik dari berbagai genre. Nuansa yang dihasilkan lantas beragam dan positif. Sebuah musik pop orkestra super-orgasme dengan lirik-lirik kebahagiaan.
Tak pelak, sang vokalis, Tim De Laughter, kerap menari lepas di atas panggung, seiring orkestrasi musik psikedelik memuncakkan hormon oksitoksin, dan beberapa perempuan berambut panjang membentuk kelompok backing vocal di baris belakang. Mereka menari serentak mengikuti orkestra, sambil menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri. Rambut mereka terbang ke segala arah, sementara vokal mereka dengan merdu melapisi vokal De Laughter.
Bukan hanya itu, para musisi lain juga diberi microphone, diberi kesempatan menjadi backing vocal. Bermusik ramai-ramai, bernyanyi ramai-ramai, penonton tentu turut bernyanyi.
Sungguh sebuah aksi keroyokan yang ikonik. Spirit rock ditarik sampai ke tapal batas terluas. Mesik personel di setiap panggung sering berganti, akibat kesibukan di luar band, tak pernah membuat pesta psikedelik dihentikan. The Polyphonic Spree terus menapaki tangga evolusi dari penghujung zaman grunge, hingga lebih dari 15 tahun sejak masa kelahirannya.
Mengasah Storytelling dengan Mudah via Storial
Tulisan ini dimuat di fitur.id
Salah satu soft skill yang banyak diasah saat ini adalah kemampuan bercerita. Lewat cerita, Anda bisa membawa orang lain ke alam imajinasi yang Anda harapkan, lewat untaian kata. Seseorang cenderung suka pada sesuatu, jika ada cerita menarik di sebaliknya.
Tak heran, kemampuan bercerita atau storytelling terhitung sebagai materi penting dalam berbagai pelatihan marketing, leadership dan pengembangan diri lainnya.
Di dalam negeri, ada satu media yang bertujuan membantu Anda mengasah kemampuan storytelling secara mudah dan gratis, yaitu Storial.
Situs yang satu ini, merupakan wadah kreatif bagi siapapun yang mau bercerita. Cara bergabungnya sangat mudah, tinggal registrasi seperti media sosial pada umumnya. Setelah itu, dengan akun yang Anda punya, Anda bisa langsung menulis. Memulai sebuah cerita.
Anda bisa menulis sebagai draft terlebih dahulu. Jika sudah percaya diri, baru menerbitkannya sejumlah minimal satu bab.
Tidak ada aturan seberapa banyak kalimat yang harus dimuat dalam satu bab cerita. Ada pengguna yang hanya menuliskan 5 kalimat, lalu menerbitkannya. Bab yang sudah diterbitkan, pun bisa Anda edit sesuka hati di kemudian hari.
Keuntungan dari mem-publish tulisan di Storial, Anda bisa seketika mendapatkan feedback, komentar dari pengguna Storial lainnya. Oh iya, pengguna Storial punya panggilan tersendiri, namanya Storialis.
Para Storialis saling terhubung, seperti pengguna media sosial facebook, twitter atauinstagram. Bedanya, konten di Storial sangat spesifik, yaitu hanya cerita. Cerita dalam format buku digital, yang ditulis bab demi bab, sesuka hati Anda.
Jika niat menulis belum muncul, Anda bisa berperan sebagai pembaca saja, belajar storytelling dari tulisan orang lain. Di Storial, ada ribuan buku yang bisa Anda baca secara cuma-cuma.
Anda juga bisa ikut memberi komentar. Syukur-syukur, komentar Anda dibalas dan membentuk diskusi seputar storytelling.
Bayangkan saja Anda seperti menulis status di facebook. Menulis status dengan topik yang terkait satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, kumpulan tulisan yang notabene hanya posting-an ringan sehari-hari, sudah menjadi sebuah buku digital yang utuh!
Itulah yang terjadi di Storial. Anda dituntut menjadi seorang storyteller, dengan cara yang paling mudah. Sesuai jargon yang tertera di halaman situsnya, yaitu menulis dengan cara baru, di mana saja dan kapan saja.
Untuk menunjang jargon yang bukan sembarang jargon ini, Storial hadir dalam bentuk aplikasi yang bisa diunduh di Playstore. Lewat aplikasi ini, Anda bisa langsung menjadi penulis hanya dengan bermodalkan smartphone.
Beda Storial dengan penerbitan konvensional
Jika Anda membandingkan Storial dengan penerbit konvensional, Anda akan menemukan tingkat efisiensi yang sangat besar sebagai penulis. Dalam penerbitan buku secara konvensional, Anda harus menulis naskah buku hingga rampung terlebih dahulu, sebelum mengirim ke penerbit.
Merampungkan sebuah buku sama sekali bukan perkara mudah. Apalagi bagi seorang penulis pemula.
Waktu merampungkan buku, katakanlah 3 sampai 10 bulan. Setelah itu, Anda mengirim naskahnya ke penerbit. Di tangan penerbit, Anda masih harus menunggu keputusan redaksi, yang waktunya bisa berbulan-bulan lamanya.
Katakanlah naskah Anda diterima, Anda masih harus menunggu proses pencetakan buku dan distribusinya. Jika dihitung-hitung dari awal penulisan, hingga akhirnya tulisan Anda bisa dinikmati pembaca, bisa menelan waktu 2 sampai 3 tahun!
Anda tak harus menunggu selama itu. Storial telah hadir sebagai alternatif bagi siapa saja yang ingin menikmati buku, baik sebagai pencerita, maupun penikmat cerita, dalam tempo yang instan.
Bagi Anda yang tidak suka buku, tapi sekedar ingin mengasah kemampuan storytelling, Storial dengan aplikasinya yang bisa diunduh di smartphone, bisa membantu Anda menjadi Storyteller handal tanpa beban, karena penggunaannya yang tak jauh beda dari media sosial lainnya.
Salah satu soft skill yang banyak diasah saat ini adalah kemampuan bercerita. Lewat cerita, Anda bisa membawa orang lain ke alam imajinasi yang Anda harapkan, lewat untaian kata. Seseorang cenderung suka pada sesuatu, jika ada cerita menarik di sebaliknya.
Tak heran, kemampuan bercerita atau storytelling terhitung sebagai materi penting dalam berbagai pelatihan marketing, leadership dan pengembangan diri lainnya.
Di dalam negeri, ada satu media yang bertujuan membantu Anda mengasah kemampuan storytelling secara mudah dan gratis, yaitu Storial.
Situs yang satu ini, merupakan wadah kreatif bagi siapapun yang mau bercerita. Cara bergabungnya sangat mudah, tinggal registrasi seperti media sosial pada umumnya. Setelah itu, dengan akun yang Anda punya, Anda bisa langsung menulis. Memulai sebuah cerita.
Anda bisa menulis sebagai draft terlebih dahulu. Jika sudah percaya diri, baru menerbitkannya sejumlah minimal satu bab.
Tidak ada aturan seberapa banyak kalimat yang harus dimuat dalam satu bab cerita. Ada pengguna yang hanya menuliskan 5 kalimat, lalu menerbitkannya. Bab yang sudah diterbitkan, pun bisa Anda edit sesuka hati di kemudian hari.
Keuntungan dari mem-publish tulisan di Storial, Anda bisa seketika mendapatkan feedback, komentar dari pengguna Storial lainnya. Oh iya, pengguna Storial punya panggilan tersendiri, namanya Storialis.
Para Storialis saling terhubung, seperti pengguna media sosial facebook, twitter atauinstagram. Bedanya, konten di Storial sangat spesifik, yaitu hanya cerita. Cerita dalam format buku digital, yang ditulis bab demi bab, sesuka hati Anda.
Jika niat menulis belum muncul, Anda bisa berperan sebagai pembaca saja, belajar storytelling dari tulisan orang lain. Di Storial, ada ribuan buku yang bisa Anda baca secara cuma-cuma.
Anda juga bisa ikut memberi komentar. Syukur-syukur, komentar Anda dibalas dan membentuk diskusi seputar storytelling.
Bayangkan saja Anda seperti menulis status di facebook. Menulis status dengan topik yang terkait satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, kumpulan tulisan yang notabene hanya posting-an ringan sehari-hari, sudah menjadi sebuah buku digital yang utuh!
Itulah yang terjadi di Storial. Anda dituntut menjadi seorang storyteller, dengan cara yang paling mudah. Sesuai jargon yang tertera di halaman situsnya, yaitu menulis dengan cara baru, di mana saja dan kapan saja.
Untuk menunjang jargon yang bukan sembarang jargon ini, Storial hadir dalam bentuk aplikasi yang bisa diunduh di Playstore. Lewat aplikasi ini, Anda bisa langsung menjadi penulis hanya dengan bermodalkan smartphone.
Beda Storial dengan penerbitan konvensional
Jika Anda membandingkan Storial dengan penerbit konvensional, Anda akan menemukan tingkat efisiensi yang sangat besar sebagai penulis. Dalam penerbitan buku secara konvensional, Anda harus menulis naskah buku hingga rampung terlebih dahulu, sebelum mengirim ke penerbit.
Merampungkan sebuah buku sama sekali bukan perkara mudah. Apalagi bagi seorang penulis pemula.
Waktu merampungkan buku, katakanlah 3 sampai 10 bulan. Setelah itu, Anda mengirim naskahnya ke penerbit. Di tangan penerbit, Anda masih harus menunggu keputusan redaksi, yang waktunya bisa berbulan-bulan lamanya.
Katakanlah naskah Anda diterima, Anda masih harus menunggu proses pencetakan buku dan distribusinya. Jika dihitung-hitung dari awal penulisan, hingga akhirnya tulisan Anda bisa dinikmati pembaca, bisa menelan waktu 2 sampai 3 tahun!
Anda tak harus menunggu selama itu. Storial telah hadir sebagai alternatif bagi siapa saja yang ingin menikmati buku, baik sebagai pencerita, maupun penikmat cerita, dalam tempo yang instan.
Bagi Anda yang tidak suka buku, tapi sekedar ingin mengasah kemampuan storytelling, Storial dengan aplikasinya yang bisa diunduh di smartphone, bisa membantu Anda menjadi Storyteller handal tanpa beban, karena penggunaannya yang tak jauh beda dari media sosial lainnya.
Jika Aksi 4 November Sepenuhnya Damai

Sebuah peristiwa menarik terjadi di pusat kota Jakarta pada 4 November 2016 lalu. Ratusan ribu orang berpakaian dominan putih, memadati jalanan strategis yang menghubungkan kantor-kantor pemerintahan daerah maupun nasional di ibu kota negara. Penulis melirik peristiwa ini dengan mengesampingkan prasangka politis, dalam skala lokal maupun nasional, lalu menuangkan hasilnya dalam tulisan ini.
Unjuk rasa yang terjadi telah dilabeli istilah “aksi damai” oleh beberapa pihak sejak sebelum aksi berlangsung. Benar, aksi berlangsung damai. Sejak pukul 10 pagi hingga pukul 6 sore, saat kemudian perwakilan pengunjuk rasa diterima oleh wakil presiden dan mencapai kesepakatan, aksi masih berlangsung damai. Di pagi hari sebelum aksi, di titik kumpul massa, terlihat salah-satu peserta aksi membawa poster berwarna oranye-putih berukuran sedang, bertuliskan, “Buktikan Kita Damai”, poster itu terbukti.
Massa aksi kemudian bubar, namun masih ada yang bertahan. Tetap bersuara di malam hari dan tak lama kemudian terlibat kericuhan. Bisa dikatakan kericuhan terjadi pasca-pembubaran. Namun, kericuhan ini membuat aksi damai menjadi tak sepenuhnya damai.
Sempat dipuji
Aksi 4 November sempat dipuji karena kemampuannya untuk tetap tertib dari awal sampai akhir. Akhir yang dimaksud adalah seputaran pukul 6 sore saat perwakilan massa dan pemerintah menjalin kesepakatan. Pujian datang dari elit politik maupun aparat yang bertugas mengamankan situasi. Tapi pujian-pujian itu kini mulai terasa hambar karena terjadi kericuhan pasca-pembubaran.
Tidak mudah untuk menjaga emosi dari massa berjumlah ratusan ribu orang yang berjalan kaki di panas terik matahari. Sekalipun ada briefing sebelum aksi yang mewajibkan setiap peserta aksi untuk menjaga kedamaian, hal-hal blunder mungkin saja terjadi. Resikonya cukup tinggi, kelengahan seseorang bisa menular ke yang lain. Belum lagi kalau misalnya ada orang-orang yang sebenarnya tidak sejalan dengan agenda aksi namun melebur ke dalam massa aksi, kemungkinan akan membuat kacau agenda yang telah ditetapkan.
Resiko itu teredam, entah bagaimana caranya, mungkin terkait pada motivasi dan kekuatan yang menggerakkan orang-orang untuk mengikuti aksi 4 November 2016. Aksi dilakukan di Jakarta, namun massa berdatangan dari berbagai penjuru, dalam dan luar Jakarta. Keseluruhan massa tidak terlibat kericuhan saat berunjuk rasa selama kurang lebih tujuh jam aksi damai.
Instrumen demokrasi dalam hal ini dimanfaatkan dengan baik. Demokrasi memberi wadah bagi siapapun yang ingin menyuarakan aspirasinya, selama masih dalam kategori legal. Kalau ilegal, ya ditindak oleh aparat. Ketika penulis menonton aksi via layar kaca, melihat ratusan ribu orang memadati semua ruas jalan bundaran HI tanpa ricuh, penulis bergumam, “Ini people power, jarang terjadi.”
Tentu aksi ini menuai pro-kontra, tergantung preferensi politik orang yang memandangnya, sebagaimana aksi turun ke jalan lainnya. Itu resiko sekaligus keuntungan dari demokrasi, yakni lahirnya beragam kepentingan, yang mengakomodir beragam kebutuhan, yang membuat ragam masyarakat bisa tumbuh bersama di negara yang sama. Terkait label “Aksi Damai”, ada yang tetap memandang aksi itu sebagai aksi damai, namun ada juga yang memandangnya sebagai aksi yang pada akhirnya ricuh juga. Penulis lebih suka memakai istilah, aksi damai yang tidak sepenuhnya damai.
Setelah 4 November, perbedaan preferensi politik pemandang semakin terlihat, dari tanggapan-tanggapan yang telah digelontorkan. Apapun tanggapan itu, semoga tetap digelontorkan dalam ranah legal demokrasi.
Jika sepenuhnya damai
Mari melangkah ke tataran global, karena mau tidak mau, aksi 4 November juga turut menjadi sorotan media internasional. Bagaimana tidak, Indonesia adalah negara demokrasi berpenduduk muslim terbanyak di dunia dan aksi 4 November juga mengusung isu terkait agama.
Penulis juga mengajak untuk sejenak bergeser dari realita dan sedikit berandai-andai. Apa yang akan tergambar di mata global jika aksi yang diikuti ratusan ribu orang yang identik dengan agama ini sepenuhnya damai?
Jika aksi sepenuhnya damai, akan muncul garis lurus yang menghubungkan tiga kata: aksi, agama dan kedamaian. Kabar aksi damai akan memperkokoh bingkai berpikir bahwa aksi agama sejatinya damai. Anak-anak muda yang religius dari seluruh negara akan memperhatikan, dan mungkin spontan menentukan sikap. Agama tidak harus berujung perang (seperti yang berlangsung selama berabad-abad sampai sekarang), namun bisa dijalankan dengan lebih etis. Indonesia lantas disebut sebagai bukti. Kabar akan direproduksi oleh agamawan pecinta kedamaian dan menyebarkannya ke orang lain. Bisa menjadi alat meminimalisir radikalisme agama ataupun terorisme berlabel agama.
Itu tidak terjadi. Faktanya, aksi tidak sepenuhnya damai. Pengerahan massa dalam jumlah yang sedemikian besar, tidak dibarengi pembubaran massa yang efektif. Alhasil, ketika sebagian besar peserta aksi bersedia pulang untuk melaksanakan ritual ibadah ataupun menyantap makan malam karena memang sudah waktunya, tetap ada yang memilih bertahan dan akhirnya terlibat kericuhan. Media internasional hanya menyorot aksi ini sebagaimana aksi lainnya di negara demokrasi. Tidak ada value lebih yang digali.
Apakah aksi ini dapat dilihat sebagai lompatan maju dalam berdemokrasi? Rasanya tidak, karena momentumnya berlangsung begitu saja, aksi tidak menjadi rahim atas suatu ide yang mengisyaratkan kemajuan bermasyarakat. Hanya menunjukkan demokrasi masih berjalan dan dimanfaatkan.
Berbeda halnya jika aksi dengan massa berjumlah besar ini, sepenuhnya damai. Misalnya tanpa kericuhan dan umpatan, Indonesia akan menjadi angin segar bagi negara lain. Menjadi counter bagi stigma yang mengaitkan terorisme dengan agama. ***
(Andri Ersada, Harian Analisa, 8 November 2016)
Bukan Kolam Susu, Ini Lautan Asap
Masih banyak orang yang ingat dengan lirik lagu dari grup musik Koes Plus, “Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu...”, deretan kata yang dengan sederhana mengapresiasi kekayaan alam Indonesia. Kekayaan itu bukan sebatas lagu saja, alam Indonesia memang kaya, sudah selayaknya dimaknai sebagai anugerah. Namun hari ini, kekayaan alam justru jadi petaka.
Kemampuan alam Indonesia untuk memproduksi komoditas dimanfaatkan secara serakah oleh orang-orang tertentu. Demi menggenjot perekonomian, cara-cara picik dipraktekkan. Pembakaran hutan dilakukan sebagai jalan pintas untuk pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Praktek ini telah berlangsung bertahun-tahun.
Api menjalar melahap lahan gambut, asap beterbangan ke segala penjuru, menjadi kabut asap yang menyerang pemukiman. Kabut asap, selama bertahun-tahun menjadi musibah yang diprotes, namun tak kunjung diproses. Tahun ini, menjadi tahun dengan kabut asap terparah.
Beberapa bulan lalu, seseorang dari istana negara dengan bangganya menyatakan bahwa bisnis sawit akan dikedepankan dalam perekonomian Indonesia, yang menghalangi akan “dibuldozer”! Padahal, bisnis sawit inilah yang jelas-jelas menyebabkan bencana, karena tak semua pebisnis sawit tahu dan mampu berbisnis sawit tanpa menghadirkan efek negatif yang meluas.
Bisnis sawit telah menjadi hegemoni, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Secara ekonomi, memang menggiurkan. Beberapa perusahaan besar memegang hak atas lahan yang sangat luas di kedua pulau ini, sudah seperti “kerajaan-kerajaan baru” yang berkuasa di tengah-tengah republik yang demokratis. Perusahaan-perusahaan besar ini layak dicurigai, seperti apa prakteknya di lapangan?
Di samping itu, hegemoninya juga mempengaruhi pasar pertanian. Banyak pemilik tanah, para petani kecil, yang beralih ke tanaman sawit, demi hasil panen yang berharga tinggi. Tanaman sawit menjadi komoditas favorit pemilih tanah. Hegemoni bisnis mendorong homogenisasi tanaman sawit.
Tak pelak, praktek bakar-membakar hutan dianggap lumrah, karena banyak pelakunya, terjadi hampir di semua wilayah yang memproduksi sawit. Ketika harga CPO melemah, banyak orang yang kesulitan. Ketergantungan terhadap produksi sawit sangat tinggi hari ini. Ketergantungan itu sejalan dengan terbitnya kabut asap.
Kesulitan Bernafas
Yang diserang oleh kabut asap bukan hanya pemandangan, tapi juga pernafasan. Bernafas, hal paling penting bagi manusia, bahkan lebih penting dari makan dan minum. Setiap detik kita terpaksa menghirup asap, aktifitas paling mendasar dari fisik kita tercemari.
Atas dasar ini, kita bisa menyatakan kabut asap bukan musibah sepele. Sudah banyak korban berjatuhan, menderita ISPA, bahkan meninggal dunia. Yang paling menyedihkan adalah nasib anak dan balita, yang kekebalan tubuhnya masih rentan, namun terpaksa menghirup asap setiapkali bernafas. Bukan tak mungkin hal ini menggoreskan trauma psikis yang mengganggu mereka hingga dewasa kelak.
Kabut asap tahun ini melanda tiga pulau besar di Indonesia: Sumatera, Kalimantan dan Papua. Sederhananya, sebagian besar wilayah Indonesia terganggu. Kabut asap juga mengganggu wilayah negara lain. Banyak penerbangan yang ditunda, banyak aktivitas outdoor dibatalkan, bahkan sekolah diliburkan.
Masyarakat tak bisa memblokir sebaran asap ataupun mengendalikan lajunya. Masyarakat hanya bisa menghindar dan berupaya agar tak jatuh sakit. Tidak ada daya lawan, hanya ada pertahanan. Lantas, siapa yang bisa menghentikan kabut asap?
Bencana Nasional
Teknologi dan usaha untuk mengatasi kabut asap tak sebanding dengan dampak buruk kabut asap yang terus meluas. Pemerintah terlihat begitu menghemat, seakan-akan kabut asap ini bukan bencana yang terlalu besar. Bantuan-bantuan dari negara lain telah hadir, namun tak cukup menjadi jawaban.
Pemerintah masih enggan menjadikan kabut asap sebagai bencana nasional, dengan alasan, ini disebabkan oleh manusia, oknum dan perusahaan yang menjadi pelaku yang harus bertanggung jawab. Paradigma ini sungguh menggelisahkan penulis, kenapa malah berfokus pada pelaku? Kenapa tidak menaruh fokus pada korban? Melihat kerugian yang ditimbulkan, sudah selayaknya kabut asap diberi status bencana nasional. Lagipula, kehadiran perusahaan-perusahaan rakus pembakar lahan tak terlepas dari surat-surat izin yang pernah diterbitkan oleh pemerintah. Pemerintah mesti lebih bertanggungjawab dan lebih proaktif. Status bencana nasional akan membuat pemerintah bekerja maksimal mengatasi kabut asap.
Secara spekulatif, penulis juga melihat adanya kemungkinan lahan-lahan baru dibakar secara sengaja oleh lawan politik dari pemerintah yang berkuasa. Membakar lebih banyak hutan untuk memperburuk citra presiden Jokowi. Dalam politik, hal ini sangat mungkin terjadi, dan yang menjadi korban tentu masyarakat penghirup asap terus-menerus.
Jika kita memandang sekeliling, terlihat udara memutih, agak mirip kolam susu. Tapi ini putih yang membahayakan, hamparan udara tengah menjadi lautan asap. Bukan putih yang membugarkan tubuh, tapi putih yang mengancam nyawa. ***
(Andri E. Tarigan, Harian Analisa, 29 Oktober 2015)
Cerdas Memilih Kepala Daerah
Musim pilkada sudah menyambangi Indonesia. Para politisi lokal mulai beradu taji, siapa yang paling layak menjadi orang nomor satu di daerahnya. Berbagai upaya telah diluncurkan, mulai dari pendekatan dengan komunitas-komunitas, iklan-iklan politik, spanduk yang mengubah wajah jalan raya dan kompleks pemukiman, sampai pemuatan berita-berita “pesanan” di berbagai media massa.
Masyarakat menjadi objek. Masyarakat ibarat domba yang siap digembalakan. Dengan satu pertanyaan: Siapa yang jadi gembalanya? Jawaban atas pertanyaan itupun dikonstruksi oleh para politisi. Agar, ketika masyarakat melangkah berbondong-bondong ke TPS nantinya, tahu hendak memilih siapa. Pengetahuan yang dibentuk via kampanye.
Disini, masyarakat mesti bisa memilah. Mana pengetahuan yang menyukseskan masyarakat, mana pengetahuan yang menyukseskan tim sukses (TS) belaka. Jika ternyata yang memenuhi coblosan atau contrengan kertas di kotak suara adalah pengetahuan yang kedua, maka gelaplah cakrawala demokrasi. Edukasi konstitusi tak mencapai target, masyarakat tak menjadi tuan atas demokrasi. Hanya menjadi objek, bukan subjek.
Sejatinya, masyarakat adalah subjek bagi demokrasi, pelaku praktek demokrasi itu sendiri. Masyarakat mengatur masyarakat, pemimpin sebagai perantara. Bupati ataupun walikota menjadi medium bagi terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Namun, esensi demokrasi ini seringkali luntur di tangan para organisator kampanye.
Bisa jadi karena uang, bisa juga karena fanatisme, bisa pula karena ketakutan (misalkan calon kepala daerah yang diusung adalah preman/mafia). Tim suksespun mulai mengubah arti kampanye sebagai edukasi politik untuk memenangkan kemuliaan visi politik tertentu, menjadi kumpulan ilusi untuk memelintir pengetahuan masyarakat. Seperti yang umum kita dengar: “politik itu ya menghalalkan segala cara”. Praktek seperti ini harus kita hindarkan.
Politik Daerah
Politik daerah sungguh berbeda dengan politik nasional. Dalam politik daerah, kepentingan penguasa bertemu langsung dengan kepentingan masyarakatnya, karena keduanya berada dalam lokasi yang sama, sekalipun kelas sosialnya berbeda. Ketika penguasa berkompromi dengan pengusaha tertentu, misalnya untuk menggusur masyarakat dari tanah yang mereka miliki, hal itu akan mudah terbaca. Dalam perpolitikan daerah, intrik lebih mungkin ditembus kritik. Mata lebih mudah melihat, demokrasi bisa lebih mendapat tempat.
Namun, edukasi politik daerah belum semantap politik nasional. Sentralisasi yang berlangsung sekian lama, yakni pada masa sebelum Reformasi 1998, membuat kemandirian politik daerah mandek. Pasca reformasi, otonomi daerah baru dimasifkan. Disitulah edukasi politik daerah mulai menjamur. Dalam hal edukasi politik daerah, Indonesia masih bayi.
Pernah belajar sejarah di sekolah? Penulis yakin yang Anda terima adalah pelajaran tentang kerajaan Majapahit, Sriwijaya atau Singosari. Anda tidak mendapat bab-bab yang sepenuhnya membahas tentang harajaon di tanah Batak, atau kerajaan Haru di tanah Melayu. Yang diberitahu adalah Sisingamangaraja XII itu pahlawan nasional. Pengajaran sejarah begitu terpusat pada kepentingan nasional. Padahal, sejarah adalah modal utama edukasi politik. Dalam sejarah, dinamika kekuasaan dibeberkan. Kenapa pengajaran sejarah di sekolah tidak memberi porsi besar terhadap sejarah daerah?
Soal wawasan terkait politik, masyarakat begitu diikat dengan temali kepentingan nasional. Ketika pilkada dicanangkan, terjadi kekosongan pengetahuan yang esensial untuk memaknai politik daerah. Para TS-pun membuka lapak. Pilkada jadi ajang obral instan aspirasi politik, entah itu 50 atau 100 ribu per kepala. Kalau begini caranya, orang miskin akan susah memasang wajah. Wajah mereka tertutupi oleh spanduk-spanduk para calon kepala daerah, yang dibuat dengan segudang biaya. Kemiskinan direduksi jadi ornamen penghias spanduk, menjadi teks “Demi Rakyat”, “Demi Kesejahteraan” atau “Demi Kemajuan”. Kemajuan siapa?
Para calon terpaksa mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Jika modal pribadi tak cukup, kontrak politik dijalin dengan para pebisnis. Muncullah list kebijakan-kebijakan pesanan, yang menyangkut pengamanan bisnis si pemberi modal. Maka, teks besar yang bersembunyi di balik teks kecil “Demi Rakyat” yang tertera pada spanduk, adalah teks “Demi Pemberi Modal”, teks “Demi Cukong”.
Cerdas Memilih
Problem masih belianya praktek masif otonomi daerah di Indonesia, begitu jelas. Minimnya wawasan politik daerah berbasis sejarah, membuat masyarakat menganggap pilkada sebagai momen bagi-bagi amplop semata. Padahal, dalam pilkada, masyarakat sedang mempertaruhkan regulasi-regulasi yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-harinya.
Seperti yang penulis utarakan sebelumnya, dalam politik daerah, intrik lebih mudah ditembus kritik. Dampaknya benar-benar berada di depan mata. Pilkada sesungguhnya lebih mungkin bersifat demokratis melebihi pemilu nasional. Kemungkinan itu hanya bisa terwujud apabila masyarakat menyadari esensinya sebagai subjek demokrasi.
Pemilu nasional itu persoalan garuda yang menempel di dada, pemilu daerah itu persoalan nasi yang masuk ke lambung. Masyarakat perlu melihat track record para calon, melihat tipe ekonomi-politiknya, apakah sesuai dengan lambung masyarakat. Tak perlu silau dengan amplop kampanye berisi 50 atau 100 ribu, itu sama sekali tak cukup mengobati lambung yang akan terluka selama satu periode kekuasaan. Itu tak mampu mengganti kerugian materiil yang diterima masyarakat apabila infrastruktur yang nantinya dibangun oleh penguasa terpilih, ternyata dibuat untuk para pebisnis-cukong (bisa jadi penduduk daerah atau negara lain!), bukan untuk masyarakat di daerah itu sendiri.
Pengajaran sejarah lokal yang memadai di sekolah adalah syarat mutlak terbentuknya masyarakat yang cerdas secara politik. Wawasannya menjadi dasar memahami dinamika kekuasaan daerah. Apa artinya NKRI tanpa sejarah nasional? Begitu pula perpolitikan daerah. Ini adalah tugas dan kebutuhan jangka panjang yang urgen untuk otonomi daerah. Namun, mengingat pilkada sudah di depan mata, maka indikator cerdas jangka pendek memilih calon yang tepat adalah kesesuaian tipe ekonomi-politik sang calon dengan pengisian lambung masyarakat setempat.
Selamat berdemokrasi! ***
(Andri E. Tarigan, Harian Analisa, 11 Agustus 2015)
Sudahkah Anda Menulis Diary?
Siapa yang tak kenal Soe Hok Gie. Aktivis mahasiswa tahun 1960-an yang terkenal vokal dan teguh menjunjung idealismenya. Pemikiran-pemikirannya tertampung ringkas dalam sebuah buku berjudul Catatan Seorang Demonstran. Sebuah buku yang sebenarnya merupakan diary milik Gie. Diary membantu Gie mengabadikan dirinya.
Salah satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari hal tersebut adalah pentingnya sebuah diary. Seandainya Gie tidak menulis diary, bisa-bisa, namanya tak harum dalam sejarah. Kebesarannya bisa terbungkam, dan ketokohannya bisa sengaja dihilangkan dari catatan sejarah mengingat banyak pihak yang kontra terhadapnya. Diary atau catatan harian, tempat dia mengabadikan kisah sehari-harinya, menjadi hal penting yang di kemudian hari menjadi alat pengingat bagi segenap penduduk negeri bahwa Indonesia pernah memiliki seorang intelektual yang begitu jujur dalam berpikir dan bertindak, Gie.
Mengutip Manfaat
Belajar dari Gie, maka menulis diary bisa kita kategorikan sebagai hal yang bijak. Bijak karena memang banyak manfaat positif yang bisa kita ambil dari penulisan diary. Menuliskan apa yang sambil lalu kita pikirkan, menuliskan kisah perih maupun indah, menuliskan sejauh apa perjalanan hidup kita, dan penulisan itu tentu bernilai positif.
Pertama, dengan menulis diary, kita sudah mulai belajar menuliskan apa yang kita pikirkan. Walaupun hanya pemikiran sambil lalu, atau pemikiran-pemikiran yang hanya bernilai humor, kita telah menuliskannya. Semakin sering kita menuliskannya, kita semakin terbiasa, dan kekakuan kita dalam menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan akan semakin sirna. Disini, kemampuan menulis dilatih secara perlahan. Seorang intelektual membutuhkan ini. Lihat betapa banyak intelektual yang punya banyak pemikiran namun akhirnya disepelekan karena hanya bisa menjadi singa debat, tak bisa menulis.
Kedua, kita mengabadikan diri. Keseharian kita yang bisa terlupa kapan saja, menjadi sesuatu yang penting dan terekam dalam diary. Nilai-nilai yang sesungguhnya telah kita ciptakan di masa lalu namun telah terlupakan, bisa kita adopsi kembali, karena ada rekam jejaknya. Diary menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya. Penting agar kita tak lupa diri. Penting agar kita mengetahui seberapa banyak hal yang telah kita perbuat, seberapa banyak hal baik yang seharusnya tetap kita pertahankan. Dengan mengetahui siapa diri kita di hari-hari yang lalu (sangat efektif kalau dalam bentuk tulisan), kita akan semakin mudah membangun karakter diri kita.
Ketiga, romantisme. Dalam diary kisah-kisah terekam. Hal-hal yang mungkin hanya dimengerti oleh kita sendiri, tertuang didalamnya. Sensasi-sensasi yang dulu mencuat, dinamika perasaan, bisa kita rasakan kembali kelak, saat kita membaca ulang diary. Diary menjadi media penyadaran bagi kita bahwa hidup kita itu sebenarnya menyiratkan banyak makna, banyak romantika, sesepele apapun tampaknya. Kita jadi belajar menghargai hidup.
Serangan Modernisasi
Pentingnya menulis diary sudah disadari oleh orang-orang sejak beratus-ratus tahun yang lalu, sudah dipraktekkan, sudah banyak yang mengutip manfaatnya. Akan tetapi, zaman tetap bergerak sehingga yang baru selalu muncul dan yang lama tergerus. Kebiasaan menulis diary termasuk hal yang kini mulai tergerus.
Hadirnya jejaring sosial internet menjadi salah satu faktor utama yang mengikis kebiasaan menulis diary. Jejaring sosial memandulkan kemampuan untuk menuliskan siapa sebenarnya diri kita secara eksistensial (seperti yang berlangsung saat menulis diary), dan kita dibawa untuk masuk ke dunia yang lebih praktis. Jejaring sosial menawarkan sejuta harapan. Seakan-akan, derajat diri kita naik, karena kita sudah berinteraksi dalam skala global. Padahal, kita hanya bersolek di dunia maya, hanya ilusi.
Aktualisasi diri tepat apabila yang kita coba aktualkan adalah karakter diri kita yang sebenarnya. Dan itu hanya bisa di dapat jika kita mempelajari jejak empiris kita, pengalaman-pengalaman kita. Diary menjadi jawaban atas hal tersebut. Sebuah kemalangan sebenarnya, disaat kebanyakan kaum muda (terutama pelajar) yang memilih jejaring sosial sebagai sarana utama aktualisasi diri.
Saya pernah menonton sebuah film yang pada salah satu adegannya membahas hal ini secara ringkas. Kira-kira bunyinya seperti ini, "Untuk apalagi menulis diary? Itukan kerjaan orang yang tidak bisa bersosial, sekarang sudah ada twitter, disana pemikiran kita bisa di-share kapan saja." Pernyataan tersebut lebih saya terima sebagai sebuah kritik. Karena, banyak hal yang sesungguhnya tak bisa tergantikan dari kebiasaan menulis diary, tapi mengapa kita lebih memilih twitter? Mampukah twitter mengabadikan kisah kita untuk kita kulik lagi di hari tua nanti? Twitter perlu, tapi fungsinya jauh beda dengan diary. Twitter bukan pengganti diary.
Sudahkah anda menulis diary? Jika belum, tulislah. Tidak ada kata terlambat untuk ini. Diary adalah media reflektif yang efektif untuk kita memaknai diri, memahami eksistensi. Kalaupun kini dunia maya dengan jejaring sosialnya gencar menarik kita dengan sejumlah fitur-fitur terbarunya, jadikan itu sebagai media pembantu, yakni sebagai sarana komunikasi (sebagaimana fungsi awalnya).
Menulis diary merupakan salah satu bentuk kesadaran sejarah, pelajaran-pelajaran yang tersirat hari ini dituliskan agar dapat menjadi referensi pertimbangan empiris yang logis bagi pembangunan diri di hari esok. Karena, sejarahlah yang membentuk karakter.
(Andri E. Tarigan, Harian Analisa, 29 November 2014)
Langganan:
Komentar (Atom)
4 Langkah Audit Perusahaan
Keuangan perusahaan tercatat dalam pembukuan akuntansi. Data yang tertera pada buku akuntansi perlu diuji secara berkala, untuk mencegah tim...
-
Seiring modernisasi dan bergulirnya wacana otonomi daerah, Simalungun rencananya akan dimekarkan. Rencana membagi dua wilayah Simalungun...
-
Beberapa tahun terakhir, Indonesia mendapat nama yang harum di mata dunia dengan tampilnya putra-putri bangsa sebagai pemenang di berbagai ...
-
Namaku Kartini. Pasti kau sering mendengar nama itu ketika masih SD. Yang terbayang di kepalamu, sosok ayu dengan sanggul di kepalanya,...


